my daily activity

Minggu, 14 April 2013

Menjadi Karbol, bukan restu Orang Tua

Cerita ini adalah ceritaku ketika aku kelas 3 SMA. Aku sadar masa-masa itu  masa-masa dimana seorang manusia akan memiliki idealisme yang tinggi. Idealisme yang tinggi seakan semuanya dapat terwujud. 


Waktu SMA aku pernah bermimpin menjadi seorang Taruna di Akademi Angkatan Udara atau orang menyebutnya Karbol. Prosesnya sangatlah panjang untuk menjadi seorang taruna. Banyak rangkaian tes yang harus dihadapi. Fisik dan Intelektual harus seimbang. Serangkaian Tes tersebut sudah dimulai sebelum Ujian Nasional SMA dan itulah yang menyebabkan aku kurang maksimal di ujian nasional karena aku harus bolak balik Jogja-Pekalongan untuk mengikuti rangkaian tes tersebut.
Foto : Tes Jasmani di Lanud Adisujtipto Yogyakarta
Tapi memang restu orang tua tidak disitu, segala usaha, kerja keras dan doa ku selama ini belum bisa menjadikanku menjadi seorang karbol. Banyak kekecewaan waktu mendengar pengumuman akhir. Karena memang rasanya waktu itu kita dipermainkan, mulai dari waktu pengumuman yang diundur terus, petinggi-petinngi TNI yang datang untuk menitipkan anaknya, Kebenaran fakta dan kebohongan fakta melebur jadi satu menjadi kekecewaan-kekecewaan di hati mereka yang tak lolos seleksi. Sampai Ibu ku sendiri yang tidak merestui pun kecewa waktu aku menghubunginya bahwa aku tidak lolos. Karena memang Waktu itu aku sudah sangat jauhh melalui tahapan seleksinya.

Singkat cerita akhirnya aku mengikuti keinginan Ibu untuk masuk PGSD, berat rasanya menerimanya tapi mau bagaimana lagi aku tidak ingin lulus SMA hanya menganggur dirumah.

 Menjadi Taruna Harus ada yang Bawa???
Masuk ke Lembaga Pendidikan Militer seperti Akmil, AAU, AAL, maupun Akpol aku pandang menjadi misteri tersendiri.
Aku ingin menceritakan pengalamanku diluar mengikuti seleksi. Aku pernah berkenalan dengan seorang perempuan, dia seumuran denganku. Aku kenal dia melalui facebook, rumahnya di perumahan Angkatan Laut didaerah Sleman (kalo gak salah:sudah lama soalnya hehehe). Aku tidak tau dia tau aku mau masuk AAU dari mana, yaa mungkin karena Postingan-postinganku. Tiba-tiba dia tahu aku sedang di Jogja dan dia mengajakku untuk ketemuan. Aku ketemuan dengannya tidak jauh dari tempat aku seleksi, karena aku sendiri belum tau daerah-daerah disitu aku tidak mengajaknya jauh-jauh. Aku mengajaknya di Warung Nasi Goreng dekat tempat aku seleksi lebih tepatnya dibawah jembatan janti. Disana kami ngobrol-ngobrol, dia menanyakan tentang alasan aku masuk AAU dan lain sebagainya. 

Singkat Cerita.... didalam obrolan kami dia menyatakan siapa orang yang dititipi "memo" agar aku bisa masuk AAU. Aku tidak pernah tau apa maksud memo itu. Aku hanya memahami sendiri, mungkin maksudnya orang yang bisa memasukan ku menjadi Karbol AAU. Kemudian aku bertanya, apakah setiap orang harus punya  itu kalau mau masuk AAU. Dia hanya menjawab bahwa kebanyakan mereka yang mau masuk tentara punya orang yang dipercaya untuk bisa memasukkanya.

Setelah malam itu, saya dan dia tidak ada obrolan lagi. Tidak tau apa alasanya dia datang dan apa alasanya dia pergi.

Tulisan ini aku buat bukan untuk menjelekkan instansi manapun, saya hanya membagikan pengalaman saya. Mengenai benar apa tidaknya jika keberatan bisa menghubungi saya.



1 komentar:

  1. Kak bisa mintak kontak nya saya masih penasaran dengan cerita kakak karna saya berencana akan mengikuti karbol

    BalasHapus

copyrights @2012

Bahrul Ulum
All rights reserved